Website buat Homestay dan Penginapan: Biar Nggak Cuma Numpang di OTA
Kalau Anda punya homestay, guest house, atau villa, kemungkinan besar tamu Anda datang dari OTA. Booking.com, Agoda, Airbnb, Traveloka. Dan itu bagus, mereka memang jago narik tamu.
Tapi coba hitung sebentar. Kalau komisinya 15 sampai 20 persen, dan setahun Anda dapat 100 juta dari OTA, berarti 15 sampai 20 juta itu bukan punya Anda. Tiap tahun. Terus-terusan.
Sekarang bandingin sama biaya bikin website sendiri. Ketahuan kan hitungannya.
Tapi tulisan ini bukan ngajak Anda keluar dari OTA. Itu saran ngawur.
Jangan Keluar dari OTA
Saya tegasin ini dulu, karena banyak yang salah paham.
OTA itu punya sesuatu yang nggak akan pernah Anda punya sendiri: jutaan orang yang lagi cari tempat nginep tanpa tahu Anda ada. Turis dari Jakarta yang mau ke Jogja bulan depan itu buka Agoda, bukan Google "homestay Prawirotaman". Anda nggak bisa nyaingin itu, dan nggak perlu.
Jadi OTA tetap jalan. Anggap aja itu biaya iklan, dan iklan yang cuma bayar kalau berhasil. Sebenernya adil.
Yang bikin rugi itu waktu semua tamu Anda lewat OTA. Termasuk tamu yang sebenarnya sudah kenal Anda, sudah pernah nginep, dan sebenarnya nggak butuh diperkenalkan lagi. Tamu jenis ini tetap kepotong komisi, padahal OTA nggak ngapa-ngapain buat dia.
Nah, tamu itu yang mau kita ambil balik.
Tamu yang Sebenernya Bisa Pesan Langsung
Ada beberapa jenis tamu yang sebenarnya sudah mau pesan ke Anda, tapi nggak ada jalannya:
Tamu yang pernah nginep. Dia suka, dia mau balik. Tapi dia nggak inget nama tempatnya, jadi dia buka Agoda lagi dan nyari dari nol. Kalau dia punya alamat website Anda, dia langsung ke situ.
Tamu yang kena riset ulang. Ini kejadian nyata dan sering. Orang nemu tempat Anda di Agoda, tertarik, terus dia buka Google buat ngecek nama tempat Anda. Dia mau lihat lebih banyak foto, mau baca ulasan lain, mau mastiin ini beneran ada. Kalau dia nemu website resmi Anda, kadang dia pesan di situ langsung. Kalau nggak nemu apa-apa, dia balik ke Agoda dan Anda kepotong komisi.
Tamu rombongan atau long stay. Yang nyewa sebulan, atau yang booking semua kamar buat acara keluarga. Ini biasanya butuh ngobrol dulu, nego, nanya ini itu. OTA malah ngehalangin.
Tamu dari Instagram Anda. Anda sudah capek-capek posting foto, dapet followers, terus link di bio-nya diarahin ke Agoda. Anda bayar komisi buat tamu yang Anda cari sendiri.
Yang Website Anda Perlu Punya
Nggak usah muluk-muluk. Buat penginapan, ini yang beneran ngaruh:
Foto, banyak, dan jujur
Ini nomor satu, jauh di atas yang lain. Orang milih tempat nginep pakai mata.
Yang penting: tiap tipe kamar difoto lengkap, termasuk kamar mandinya (ini yang paling dicari dan paling sering nggak difoto). Terus area bersama, tampak depan bangunan, dan sekitarnya.
Dan jujur. Kalau kamarnya kecil, fotonya jangan diakalin sudut biar kelihatan luas. Tamu yang datang terus kecewa itu ngasih ulasan jelek, dan ulasan jelek itu jauh lebih mahal daripada satu booking.
Harga yang kelihatan
Ini yang sering diperdebatkan, tapi menurut saya jelas: tampilin harganya.
Orang yang nggak nemu harga itu nggak akan chat buat nanya. Dia cuma pergi. Nampilin harga itu nyaring tamu yang emang nggak cocok budgetnya, dan itu bagus, Anda jadi nggak buang waktu.
Tombol WhatsApp yang jelas
Buat penginapan kecil, WhatsApp itu lebih ampuh daripada sistem booking rumit. Tamu Indonesia nyaman chat. Mereka mau nanya "bisa early check-in nggak?" sebelum bayar.
Jadi tombol WhatsApp yang begitu diklik langsung kebuka chat dengan pesan yang sudah keisi, misalnya "Halo, saya mau tanya kamar untuk tanggal sekian". Sederhana, dan konversinya bagus. Saya bahas cara kerjanya di tulisan ini.
Lokasi dan sekitarnya
Peta, plus tulisan jujur soal jarak. "10 menit jalan kaki ke Malioboro" itu informasi yang bikin orang mutusin. Sebutin juga yang deket-deket: warung, ATM, halte.
Muncul di Google Maps
Buat penginapan, ini gede banget. Orang yang sudah di Jogja dan nyari tempat nginep mendadak itu buka Maps. Ini gratis dan sering dilewatin. Caranya saya tulis di cara usaha muncul di Google Maps.
Yang Nggak Usah Dulu
Biar Anda nggak kebanyakan bayar di depan:
Sistem booking real-time yang nyambung ke kalender OTA. Ini mahal, ribet, dan buat penginapan di bawah 10 kamar biasanya belum sepadan. WhatsApp plus kalender manual itu cukup jauh lebih lama dari yang Anda kira.
Pembayaran online. Transfer plus konfirmasi WhatsApp itu masih normal banget di Indonesia. Tambahin nanti kalau memang sudah kerepotan.
Halaman berbahasa Inggris, kecuali tamu asing memang porsi besar Anda. Kalau iya, ya perlu.
Hitungan Kasarnya
Anggap Anda pasang website dan cuma 2 dari 10 tamu yang akhirnya pesan langsung. Ini angka yang konservatif banget, dan biasanya datang dari tamu balik dan tamu yang riset ulang.
Kalau setahun omzet dari OTA 100 juta dengan komisi 18 persen, memindahkan 20 persen booking ke jalur langsung itu ngirit sekitar 3,6 juta setahun. Websitenya sendiri bayar sekali, dan biaya rutinnya ratusan ribu setahun.
Balik modalnya biasanya di bawah setahun, dan setelah itu jadi keuntungan terus. Belum ngitung tamu baru yang nemu Anda dari Google.
Rinciannya bisa Anda lihat di halaman harga. Buat kebanyakan homestay, paket Website Bisnis itu yang pas, karena butuh galeri dan beberapa halaman.
Kalau Mau Ngobrol Dulu
Saya sudah ngerjain website buat bisnis sewa villa dan properti di Bali, lengkap sama galeri tiap properti dan booking langsung lewat WhatsApp. Jadi kalau Anda mau tanya-tanya soal apa yang beneran kepakai buat penginapan dan apa yang cuma bikin mahal, cerita aja dulu.
Gratis, dan kalau menurut saya Anda belum perlu website dan lebih baik benerin foto di Agoda dulu, ya saya bakal bilang gitu.
Butuh website untuk usaha Anda?
Saya bantu dari desain, bikin, sampai online dan dirawat. Mulai Rp 1.500.000, transparan tanpa biaya kaget.