← Semua tulisan

Website Sendiri vs Marketplace: Mana yang Usaha Anda Butuhkan?

5 menit bacaWian Agus Satria Pratama

Pertanyaan ini sering banget mampir ke saya, biasanya dari pemilik usaha yang jualannya sudah jalan di Shopee atau Tokopedia: "Saya udah laku kok di marketplace, ngapain bikin website lagi?" Jujur, itu pertanyaan yang bagus. Dan jawabannya bukan "harus pindah" atau "harus tetap di sana". Mari kita lihat pelan-pelan, apa adanya.

Marketplace Itu Tempat Mulai yang Bagus

Saya nggak akan pura-pura marketplace itu jelek. Justru sebaliknya. Buat banyak usaha kecil di Jogja yang baru mulai, Shopee dan Tokopedia adalah pintu masuk yang masuk akal. Alasannya jelas:

  • Traffic sudah ada. Jutaan orang buka aplikasinya tiap hari. Anda tinggal numpang di keramaian yang sudah terbentuk.
  • Kepercayaan instan. Orang sudah percaya sistem pembayaran dan pengiriman marketplace. Mereka nggak takut transfer ke Anda, karena uangnya ditahan dulu sama platform.
  • Nggak perlu mikir teknis. Upload foto, isi harga, selesai. Nggak ada urusan hosting, domain, atau ongkir yang harus diatur sendiri.

Kalau Anda baru jualan dan belum punya nama, marketplace adalah cara tercepat buat dapat penjualan pertama. Saya selalu bilang ke calon klien: kalau Anda belum pernah laku sama sekali, jangan buru-buru bikin website mahal. Buktikan dulu produknya laku di marketplace.

Tapi Ada Harga yang Sering Nggak Kelihatan

Nah, di sinilah obrolannya jadi menarik. Marketplace memang gratis dipakai, tapi "gratis" itu ada biayanya, cuma nggak selalu kelihatan di awal.

Pertama, komisi. Tiap transaksi, platform ambil potongan. Angkanya kelihatan kecil, beberapa persen saja. Tapi coba kalikan dengan omzet setahun. Kalau Anda jual 500 produk sebulan, potongan itu jadi angka yang lumayan bikin sayang. Itu margin yang seharusnya bisa masuk ke kantong Anda.

Kedua, dan ini yang menurut saya paling penting: Anda nggak punya data pelanggan. Orang yang beli dari Anda di Shopee, itu pelanggan Shopee, bukan pelanggan Anda. Anda nggak tahu nomornya, nggak bisa kirim WhatsApp pas ada produk baru, nggak bisa kasih promo khusus ke yang sudah pernah beli. Hubungannya berhenti di platform.

Ketiga, Anda main di kandang orang lain. Aturannya bisa berubah kapan saja. Komisi naik, algoritma pencarian berubah, kompetitor pasang harga perang di sebelah produk Anda. Anda nggak punya kendali atas semua itu.

Saya pernah ngobrol sama pemilik usaha keripik yang omzetnya bagus di marketplace. Pas saya tanya, "Berapa pelanggan tetap yang bisa Anda hubungi langsung?" Dia diam. Jawabannya nol. Padahal ribuan orang sudah pernah beli produknya.

Website Itu Aset, Bukan Sekadar Etalase

Website sendiri main di liga yang beda. Bukan lebih baik secara mutlak, tapi fungsinya beda. Kalau marketplace itu kios sewaan di pasar, website itu toko milik Anda sendiri.

Yang Anda dapat dari website sendiri:

  • Lepas komisi. Penjualan yang masuk lewat website Anda, 100% milik Anda. Nggak ada potongan platform tiap transaksi.
  • Data pelanggan jadi milik Anda. Nama, nomor WhatsApp, email, riwayat belanja. Ini harta yang sebenarnya. Dengan ini Anda bisa bangun pelanggan tetap, bukan cuma pembeli sekali lewat.
  • Kontrol penuh atas tampilan dan cerita. Di marketplace, halaman produk Anda kelihatan sama persis dengan ribuan penjual lain. Di website, Anda bisa bangun merek yang punya karakter, cerita, dan kesan profesional.
  • Aset jangka panjang. Website yang dirawat akan terus tumbuh nilainya, naik di pencarian Google, jadi tempat orang mencari Anda secara langsung. Marketplace nggak menumpuk nilai itu buat Anda, tapi buat platformnya.

Saya sudah pernah bahas lebih dalam soal kenapa punya kehadiran sendiri itu penting di artikel kenapa usaha Jogja butuh website. Intinya: orang yang sudah niat cari Anda, kasih mereka tempat yang rapi buat menemukan Anda.

Jadi, Pilih yang Mana?

Ini bagian yang sering bikin orang kaget waktu ngobrol sama saya, karena saya nggak akan bilang "tinggalkan marketplace, bikin website". Saran saya justru: jangan dipilih, dikombinasikan.

Logikanya begini:

  • Pakai marketplace sebagai mesin akuisisi. Biarkan Shopee dan Tokopedia melakukan apa yang mereka jago: mendatangkan pembeli baru yang belum kenal Anda. Manfaatkan traffic dan kepercayaannya.
  • Pakai website sebagai rumah dan tempat membangun hubungan. Arahkan pelanggan yang sudah pernah beli ke website Anda. Selipkan kartu nama atau ucapan terima kasih di paket dengan alamat website Anda. Pelan-pelan, ajak mereka pindah ke "toko" Anda sendiri, di mana Anda nggak kena komisi dan bisa kenal mereka langsung.

Dengan cara ini, marketplace tetap kerja buat Anda, tapi Anda juga pelan-pelan membangun aset yang benar-benar milik sendiri. Anda nggak bergantung penuh sama satu platform, dan tiap pelanggan punya kemungkinan jadi pelanggan tetap, bukan cuma transaksi sekali.

Kapan Waktunya Mulai Bikin Website?

Saya kasih patokan sederhana yang biasa saya pakai:

  • Kalau Anda belum pernah laku sama sekali, fokus dulu di marketplace. Uji produknya.
  • Kalau penjualan Anda sudah konsisten dan punya pelanggan yang balik lagi, ini tanda Anda siap punya rumah sendiri. Sayang kalau hubungan dengan mereka berhenti di platform.
  • Kalau Anda mulai merasa komisi makin berat atau ingin terlihat lebih profesional saat ada yang mencari nama usaha Anda di Google, website jadi langkah yang masuk akal.

Bikin website pertama nggak harus mahal atau ribet. Saya biasa kerjakan website yang rapi dan profesional untuk UMKM mulai Rp 1.500.000, dan saya selalu pastikan Anda paham apa yang Anda bayar dan kenapa. Detail paket dan apa saja yang Anda dapat bisa Anda lihat di halaman paket dan harga.

Penutup

Marketplace dan website bukan musuh. Mereka dua alat dengan tugas berbeda. Marketplace bagus buat menemukan pembeli baru. Website bagus buat menjadikan mereka pelanggan setia yang benar-benar Anda kenal dan miliki.

Kalau Anda lagi di titik bingung, sudah laku di marketplace tapi mulai mikir soal langkah berikutnya, saya senang diajak ngobrol. Ceritakan saja usaha Anda dan di mana posisinya sekarang. Nggak harus langsung bikin, kita bisa pikirkan dulu bareng apa yang paling masuk akal buat kondisi Anda. Anda bisa lihat dulu cara kerja saya supaya kebayang prosesnya seperti apa.

Butuh website untuk usaha Anda?

Saya bantu dari desain, bikin, sampai online dan dirawat. Mulai Rp 1.500.000, transparan tanpa biaya kaget.