← Semua tulisan

Website Usaha Lemot? Ini Penyebabnya dan Cara Benerinnya

4 menit bacaWian Agus Satria Pratama

Coba lakukan satu tes kecil. Buka website usaha Anda dari HP, pakai kuota, bukan wifi kantor. Hitung dalam hati sampai berapa halamannya kebuka penuh.

Kalau Anda sampai hitungan tiga masih putih, itu masalah. Bukan masalah teknis yang bisa ditunda, tapi masalah jualan. Orang nggak nunggu. Mereka balik lagi ke Google dan buka punya orang lain, dan Anda nggak akan pernah tahu itu kejadian.

Yang bikin nyebelin, website lemot itu diam. Nggak ada notifikasi, nggak ada error, nggak ada yang komplain. Cuma sepi.

Kenapa Ini Penting Banget di Indonesia

Di kantor, pakai wifi kenceng, website apa pun kelihatan lancar. Tapi pelanggan Anda nggak buka website dari situ. Mereka buka dari HP, sambil nunggu antrian, di sinyal yang naik turun, kadang di luar kota besar.

Dan Google tahu itu. Kecepatan itu salah satu hal yang dia nilai buat nentuin urutan hasil pencarian. Jadi website lemot itu kena dua kali: orangnya kabur, dan posisinya di Google juga susah naik. Kalau Anda lagi usaha biar muncul di pencarian lokal, ini langsung ngerem usaha Anda. Saya bahas soal itu di SEO lokal Jogja untuk usaha kecil.

Cek Dulu, Jangan Nebak

Sebelum benerin apa-apa, ukur dulu. Gratis kok:

  1. Buka PageSpeed Insights (cari aja di Google), masukin alamat website Anda.
  2. Lihat skornya, tapi jangan terpaku ke angka. Yang penting itu bagian Mobile, dan bagian yang nunjukkin apa yang bikin lambat.
  3. Yang paling ngaruh biasanya nomor satu atau dua di daftar itu. Sisanya sering cuma receh.

Satu hal yang sering bikin salah paham: skor 100 itu bukan target. Skor 100 di angka tapi kerasa lambat di HP orang itu nggak ada gunanya. Yang Anda kejar adalah halamannya kebuka cepat di HP biasa dengan kuota biasa, bukan angka bagus buat dipamerin.

Penyebab Paling Sering, Urut dari yang Paling Bikin Berat

1. Foto yang kegedean

Ini juaranya. Jauh di atas yang lain.

Foto dari kamera HP jaman sekarang itu ukurannya bisa 4 sampai 8 MB per biji. Kalau halaman Anda ada 10 foto produk yang di-upload apa adanya, berarti pelanggan Anda harus download 50 MB cuma buat lihat satu halaman. Di kuota. Ya jelas lemot.

Padahal foto yang tampil di layar HP itu paling butuh beberapa ratus kilobyte. Selisihnya bisa 20 kali lipat, dan matanya nggak akan bisa bedain.

Yang bisa Anda lakukan sendiri: kecilin foto sebelum di-upload. Ukuran lebar 1600 piksel itu udah lebih dari cukup buat kebanyakan kebutuhan. Kalau website Anda dibikin bener, harusnya ini diurus otomatis sama sistemnya, jadi Anda nggak perlu mikir. Tapi kalau Anda pakai platform yang upload mentah, ini kerjaan Anda.

2. Terlalu banyak barang nempel

Chat widget, popup diskon, pixel iklan, Google Analytics, tombol share, animasi, font yang aneh-aneh. Satu-satu kelihatan ringan. Ditumpuk sepuluh, jadi berat.

Tiap tambahan itu minta browser pelanggan ngunduh dan ngejalanin kode tambahan. Dan yang bikin sakit, sering kali barang-barang ini dipasang buat kebutuhan Anda (ngukur, ngiklan), bukan kebutuhan pelanggan.

Yang bisa Anda lakukan: buka daftar plugin atau app di platform Anda, matiin yang setahun terakhir nggak pernah Anda lihat hasilnya. Biasanya lumayan banyak.

3. Platformnya emang bawa banyak bawaan

Website builder dan tema WordPress yang penuh fitur itu ngirim banyak kode yang belum tentu Anda pakai. Anda cuma butuh halaman profil usaha, tapi yang dikirim ke browser itu mesin buat segala kemungkinan.

Ini bukan berarti platform-nya jelek, cuma memang begitu cara kerjanya. Saya sudah bandingkan panjang lebar di Wix vs custom dan WordPress vs custom.

Yang bisa Anda lakukan: kalau Anda pakai tema yang berat, ganti tema yang ringan sering langsung kerasa. Kalau memang sudah mentok, ini alasan yang sah buat pindah ke custom.

4. Servernya jauh atau murahan

Hosting murah banget itu biasanya numpuk ratusan website di satu mesin. Kalau tetangga Anda lagi ramai, punya Anda ikut lambat. Server yang lokasinya jauh juga nambah delay, walaupun ini efeknya paling kecil dibanding tiga di atas.

Yang bisa Anda lakukan: ini bukan yang pertama dibenerin. Betulin foto dulu. Kalau foto sudah beres dan masih lambat, baru lihat hostingnya.

Urutan Benerinnya

Kalau saya yang pegang, urutannya gini:

  1. Kecilin semua foto. Sering kali ini doang sudah nyelesein sebagian besar masalah.
  2. Buang yang nggak kepakai. Plugin, widget, script yang nggak jelas gunanya.
  3. Lihat temanya. Kalau berat, ganti yang ringan.
  4. Baru pikirin hosting.

Perhatiin bahwa tiga langkah pertama itu gratis dan bisa Anda kerjain sendiri hari ini. Yang sering terjadi, orang buru-buru pindah hosting mahal padahal masalahnya di foto 6 MB.

Kalau Sudah Mentok

Ada titik di mana ngutak-atik nggak nolong lagi, karena masalahnya di fondasi. Kalau website Anda sudah dipangkas sana-sini tapi tetap lemot, biasanya memang bangunannya yang kebanyakan bawaan.

Buat konteks, website yang saya bikin itu fotonya dikecilin dan disesuaikan otomatis, dan yang dikirim ke browser cuma yang benar-benar dipakai halaman itu. Bukan karena saya sakti, tapi karena dibangun dari nol sesuai kebutuhan, jadi nggak ada beban yang nggak perlu. Ciri-ciri lain website usaha yang sehat saya kumpulin di tulisan ini.

Kalau Anda mau saya lihat dulu website Anda yang sekarang, kirim aja linknya lewat WhatsApp. Saya cek dan saya kasih tahu apa adanya, ini masih bisa dibenerin atau memang lebih masuk akal dibangun ulang. Gratis, dan kalau menurut saya nggak perlu dibangun ulang, ya saya bilang gitu.

Butuh website untuk usaha Anda?

Saya bantu dari desain, bikin, sampai online dan dirawat. Mulai Rp 1.500.000, transparan tanpa biaya kaget.